top of page
  • Admin

Cross-cultural Collaboration: Japan & Indonesia



Pada 2016, Akira dan Andes (Managing Director SHINTA VR) sepakat menyamakan visi untuk membangun SHINTA VR. Sejak pertemuan pertama, keduanya saling mengisi dan memperkuat value dari SHINTA VR berdasar pada latar belakang kultural mereka. Walaupun berbagai cara harus mereka lakukan demi keberlangsungan perusahaan ini. Ada kalanya, tugas utama Akira cukup absurd jika mengingat posisi Akira saat ini adalah President Director. “Akira bolak-balik antara Jepang dan Indonesia pada masa awal SHINTA VR,” ucap Andes.


Aktivitas bolak-balik Jepang-Indonesia ini tidak lama, hanya dua tahun, hingga akhirnya Akira mengurus KITAS (Kartu Izin Tinggal Terbatas). Pengurusan KITAS ini membuat Akira dapat tinggal di Indonesia sehingga leluasa untuk totalitas mengurus SHINTA VR. Totalitas inilah salah satu visi dari latar belakang budaya Akira yang berpegang teguh terkait quality and delivery. Selama menatap di Indonesia pada 2018-2019, Akira semakin ingin mengelaborasikan budaya Jepang dan Indonesia untuk menyebarkan impact lebih luas lagi.


I think this has created a unique and good culture at SHINTA VR over the years,” ujar Akira. Jika dilihat berdasarkan growth, kolaborasi lintas-kultural Jepang dan Indonesia ini baru membuahkan hasil di tahun ketiga SHINTA VR. Tepatnya pada 2019, SHINTA VR meluncurkan MilleaLab sebagai produk inovasi pertamanya untuk sektor pendidikan. Menurut Akira, “I made all kinds of mistakes on first and second years of SHINTA VR. But it’s okay. That’s why I’m here now.” MilleaLab sekarang meraih sejumlah pengakuan internasional dan diterapkan di banyak sekolah se-Indonesia.


Kesalahan adalah hal yang wajar. Dari kesalahan, kita belajar untuk tidak mengulangi kekeliruan yang pernah kita buat. Dan pengalaman belajar dari kesalahan itulah yang membuat Akira semakin bersemangat mengembangkan teknologi imersif di SHINTA VR. MilleaLab adalah bukti dari riset panjang SHINTA VR untuk terus meneliti pendidikan Indonesia di masa kini dengan adaptasi teknologi. Jika kita melihat yang benar saja, sulit untuk kita memberi solusi masalah yang dibutuhkan. Inilah sisi diri Akira yang mirip dengan Andrew (CTO SHINTA VR).


Setelah MilleaLab diluncurkan, Akira bersama Andes, Andrew dan tim SHINTA VR lainnya semakin penasaran untuk terus menciptakan inovasi teknologi imersif. Hingga akhirnya muncul sebuah momen besar turning point SHINTA VR, yaitu Pandemi Covid-19. Pada masa pandemi, teknologi imersif menjadi perhatian di dunia internasional. Akira tahu, SHINTA VR perlu berandil dalam memberi solusi terhadap isu virus global ini. Maka, riset produk baru pun dimulai lalu dikembangkanlah SpaceCollab. Akira menyayangkan karena pada masa pandemi dirinya terbatas dan tidak bisa mukim di Indonesia. Selama pandemi, Akira lebih banyak kerja mengurus SHINTA VR dari kediamannya di Jepang.


Meskipun demikian, pandemi membuat Akira memahami bahwa hidup memberi kita kesempatan untuk tetap bisa menyikapi kesalahan-kesalahan yang pernah kita buat. Jika kita bekerja di bidang teknologi, maka kontrubusikanlah diri kita untuk menyelesaikan permasalahan sosial, misalnya melalui teknologi. Semua penyelesaian masalah memang memakan waktu yang berbeda-beda. Namun Akira berfokus pada solusi, bukan masalah. Akira tahu bahwa teknologi dapat memberi perubahan, sehingga SHINTA VR bertumbuh tiap tahunnya. Saat ini, SHINTA VR terhitung sebagai perusahaan yang berhasil melewati krisis pandemi.


Semua membutuhkan proses, termasuk menyatukan visi dalam membangun sebuah perusahaan bersama. Dan uniknya, terkadang proses itu tidak perlu terlalu dipikirkan. Jalani saja sesuai passion dan latar belakang budaya yang membentukmu. Bahkan, Akira pun takjub mengingat bahwa ternyata dirinya bersama Andes dan Andrew berkomitmen menjalankan dan menjadikan SHINTA VR sebagai perusahaan impactful sejak mereka bertiga bertemu untuk pertama kali. Komitmen menjadi salah satu faktor kunci sebagai motivasi SHINTA VR untuk bangkit dari permasalahan. Tapi satu hal penting yang disampaikan Akira “I really do what I love and what I want to do every day. Actually there is no sense of effort or hard work.


Akira adalah orang yang simpel. Dia melakukan sesuatu yang dia sukai sebagai alasan memberi arti kepada hidupnya, kepada hidup orang lain di sekitarnya. Kepada negaranya, Jepang–juga kepada Indonesia yang dikaguminya. Itulah salah satu nilai kultural khas Jepang yang berkaitan dengan dedikasi. Akira telah melalui tahun pertama dan kedua SHINTA VR yang sangat berat. Maka tahun ke-7 SHINTA VR ini merupakan tahun yang ditunggu-tunggu Akira, Andes, dan Andrew. Pada 2023, SHINTA VR mengawali misi tahun ketujuh dengan sukses memasuki pasar global sebagai perusahaan percontohan dalam industri Metaverse Global. Dalam kata-kata Akira, “The theme for year seven is global. Let's make the biggest impact in the world together.


0 tampilan0 komentar

Kommentare


bottom of page